solusi kemacetan

solusi mengatasi kemacetan

Solusi mengatasi kemacetan dari para calon gubernur

Jika banjir biasanya menjadi masalah di Jakarta setiap 5 tahun sekali, lain dengan kemacetan. Kemacetan merupakan masalah yang harus dihadapi warga Jakarta setiap hari kecuali pada saat libur lebaran. Mengapa busway belum menjadi solusi mengatasi kemacetan?
Saya sangat kecewa menggunakan busway. Jika dulu dengan bis biasa bisa ditempuh dengan satu jam, maka menggunakan busway yang muncul begitu lama, kemudian sesudah munculpun harus antri menunggu busway selanjutnya karena busway yang ada sudah penuh berjubel. Sehingga total bisa 2 jam. Harus jalan dulu antara tiap halte melalui jembatan yang panjangnya sampai ratusan meter dan sekarang ini busway sangat tidak nyaman dengan pemisahan co/ce, sering kali saya harus berdiri karena cewek pun duduk di belakang sedangkan cowok tidak boleh duduk di depan. Artinya selama menunggu antar halte misal dari gelanggang remaja Cawang ke Senayan City. Pertama saya naik di halte gelanggang remaja, kemudian transit dan menyebrang di BNN, lalu berhenti di Semanggi, berjalan sampai ke halte Karet kemudian naik dan turun di Ratu Plaza. Jika saya mengantri 5-10 menit tiap hate, kadang 30 menit di satu halte, berjalan di setiap jembatan transit 20 menit ditambah waktu perjalanan, total bisa 2 jam. Artinya selama 2 jam saya berdiri di halte mengantri dan di busway yang penuh sesak untuk satu perjalanan. Itu belum lagi jika saya dari cawang ke daerah Gandaria City, saya tidak berhenti di Semanggi tetapi lanjut sampai grogol, setelah itu transit lagi dari grogol, berjalan lagi dari halte grogol 2 ke halte grogol 1 kemudian mengantri lagi, baru lanjut sampai ke halte pasar kebayoran. Biasa total lebih dari 3 jam. Kalau setiap penumpang merasa kecewa dengan busway tentu akan beralih ke kendaraan pribadi yang jauh lebih manusiawi. Sepertinya duduk manis di Mikrolet M 06 jurusan Kp Melayu – Gandaria akan lebih cepat sampai.
Setiap calon gubernur memberikan janji dan solusi mengatasi kemacetan. Apa saja program mereka? Bagaimana mereka mengatur kendaraan pribadi & menfasilitasi kendaraan umum dan busway?
Menurut Fauzi Bowo penyebab kemacetan adalah adanya parkir liar di sepanjang jalan raya, bus yang berhenti tidak pada halte atau terminal, hingga joki pada kawasan three in one, menandakan kurangnya kesadaran berperilaku lalulintas. Solusi mengatasi kemacetan dari Foke adalah untuk mengatasi parkir liar, Pemprov telah membangun gedung-gedung parkir dan Kawasan Parkir Terpadu (KPT), sebagai pilot project pembangunan tersebut akan dimulai di kawasan Jalan Gajah Mada hingga Jalan Hayam Wuruk. Pemprov DKI Jakarta juga merencanakan dan mempersiapkan penerapan Electronic Road Pricing System (ERP) pada kawasan three in one untuk mengendalikan penggunaan kendaraan pribadi. Juga akan dimulai pembuatan MRT pada Juni 2012 dengan dana 15 trilyun dengan 12 halte dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI. Analisa saya, Apakah dengan sekali angkut 1500 orang akan nyaman duduk atau harus berdiri? Kapan selesai? Bagaimana sementara menunggu MRT itu selesai sementara pembangunannya sendiri akan menutup jalan-jalan dan membuat kemacetan baru di beberapa titik.
Hidayat Nur Wahid mempunyai solusi mengatasi kemacetan yang lain. Menurutnya penyebab kemacetan adalah sebanyak 800 ribu kendaraan pribadi masuk ke Jakarta setiap harinya. Maka dengan dibangun lahan parkir di pinggiran Jakarta dan dibangun Halte busway pada tempat tersebut, maka mobil-mobil pribadi akan parkir di sana dan penggunanya beralih menggunakan busway. Selain itu membangun flyover pada setiap lampu merah yang menjadi pusat kemacetan. Para supir kendaraan pun harus disiplin untuk tidak menurunkan penumpang pada badan jalan. Tentang pembatasan kendaraan pribadi berdasar nomor atau tanggalan, HNW mengatakan “akan jadi masalah jika hanya memiliki satu kendaraan pribadi”. Analisa saya, seberapa banyak orang mau direpotkan beralih dari mobil pribadi ke busway yang penuh sesak? HNW lebih perduli pada pemilik kendaraan pribadi jika penggunaan kendaraan pribadi dibatasi. Bagaimana dengan nasib saya dan rakyat kecil lain yang sama sekali tidak punya kendaraan pribadi? Bukankah tujuan pembatasan adalah supaya mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke kendaraan umum?
Faisal Basri pun tidak setuju jika mengurangi kemacetan dengan menambah jalan layang. Menurutnya sekarang ini angkutan busway baru berjumlah 600 buah, jika ditambah 1000 buah maka membutuhkan dana 1 triliun, sedangkan untuk satu jalan layang dibutuhkan dana 2 triliun. Jadi untuk menambah unit busway akan lebih murah. Hal lainnya dengan menambah rel kereta listrik dalam kota yang mengitari seluruh Jakarta. Jika fasilitas kendaraan umum sudah dipenuhi dan nyaman baru dibuat peraturan untuk pembatasan kendaraan pribadi.
Alex Noerdin mengaku mendapatkan data akibat kemacetan dalam satu tahun Jakarta mengalami kerugian Rp 46 triliun. Ia menuturkan masyarakat bergeser menggunakan kendaraan pribadi, dari kendaraan umum, karena dianggap tidak nyaman. Menurut Alex, pada tahun 2002 lebih dari 50 persen penduduk Jakarta memanfaatkan kendaraan umum sebagai sarana transportasi. Namun di tahun 2010, Alex mengklaim hanya sekitar 16,7 persen warga yang masih menggunakan kendaraan umum. Ia pun menilai pertumbuhan jalan di Jakarta tidak seimbang dengan pertumbuhan kendaraan yang ada. Salah satu faktor yang ikut menyebabkan kemacetan, kata Alex, adalah parkir off street atau parkir dengan memanfaatkan badan jalan. Untuk mengatasi kemacetan tersebut, Alex menawarkan tiga solusi mengatasi kemacetan. Solusi-solusi tersebut adalah optimalisasi kendaraan umum, pembatasan kendaraan pribadi, serta melakukan penataan ruang atas Kota Jakarta. Alex mengklaim dirinya akan membutuhkan dana Rp 7,04 triliun untuk mengatasi permasalahan transportasi di Jakarta dengan kemacetan di dalamnya. Saya setuju dengan penyebab dan solusi yang ditawarkan Alex, hanya saja belum dijelaskan tentang rencana detail supaya itu bisa terlaksana.
Solusi mengatasi kemacetan versi Jokowi antara lain, pengadaan busway yang akan melintas setiap 3 menit. Jika sekarang ada 500 unit, maka dengan penayangan iklan di busway bisa untuk mendanai dan menambah hingga 2000 unit. Proyek lainnya menggunakan trem, trem akan menggunakan rel di jalur busway yang sekarang ada, sementara busway akan dipindahkan ke jalur lain. Selain itu pembangunan monorel akan dilanjutkan. Untuk pembatasan kendaraan pribadi, maka di tempat tertentu, biaya parkir akan dibuat tinggi. Sebagai pengguna kendaraan umum seperti busway saya merasa ini langkah bijak dalam mengatasi kemacetan sekaligus menfasilitasi rakyat dengan kendaraan umum yang nyaman. Trem juga lebih murah daripada membuat MRT, jalurnya tidak akan diserobot oleh kendaraan pribadi karena diganti rel.
Ahmad Riza Patria memberikan solusi mengatasi kemacetan integral, yaitu membuat bus rel, meremajakan Kopaja, membuat angkutan air, serta mengoptimalkan kereta rel listrik. Riza juga setuju dengan rencana untuk melanjutkan pembangunan monorel, rel bus atau trem jarak pendek dengan biaya yang cukup murah.
Seandainya saya menjadi Gubernur, saya sendiri mempunyai solusi mengatasi kemacetan:
1. Tentu saya setuju dengan menambah unit dan koridor busway seperti program Jokowi menggunakan iklan di busway,
2. saya juga setuju dengan biaya parkir yang tinggi.
3. Pembatasan kendaraan lebih baik dengan meningkatkan pajak kendaraan pribadi, juga menambah pemasukan dari sector pajak. Pelarangan penggunaan BBM subsidi untuk mobil pribadi, juga untuk penghematan BBM.
4. Pembatasan umur kendaraan pada saat perpanjangan STNK misal 10 tahun setelah itu harus dijual sebagai besi tua atau ganti mesin dan nomor kendaraan hingga tidak menimbulkan polusi karena mesin yang sudah tua.
5. Setelah itu baru mulai mempertimbangkan solusi dari trem, monorel, MRT ataupun kendaraan air.
Saya yakin ini solusi mengatasi kemacetan, tapi saya yakin para pemilik kendaraan pribadi apalagi distributor kendaraan pribadi tidak akan setuju. Dengan dana yang besar, pasti calon gubernur dengan program seperti ini akan ditolak bahkan diturunkan dari jabatan. Saya juga mungkin tidak akan membuat kebijakan seperti ini jika saya memiliki mobil pribadi seperti para pejabat.

No Comments

You must be logged in to post a comment.