Meeting sambil makan pizza cone
September 26, 2016

Analisa Kasus Augustinus Judianto

Belakangan saya sudah tidak mau menulis kondisi politik seputar politik di Indonesia karena banyak fokus ke cebong kampret dan kadrun, kali ini saya tertarik untuk membahas tentang kasus Augustinus Judianto sebagai komisaris PT Gatramas Internusa yang terlibat kasus penunggakan pinjaman pada Bank Sumsel Babel sebesar 14 miliar. Begitu banyak artikel dan berita yang simpang siur sepotong-sepotong di media online ataupun media cetak, saya mencoba menyusunnya menjadi artikel yang kronologis supaya kita bisa mengerti kasusnya secara lebih detail mulai dari kondisi perusahaan, kondisi migas, pinjaman dana sampai akhirnya pelaksanaan sidang. Mengapa saya tertarik dengan kasus ini, karena saya melihat bahwa kasus ini mungkin bukan kasus yang ramai di Jakarta atau sekitarnya, tetapi saya melihat trending yang naik di Sumatera Selatan, dengan jumlah pencari di google yang bertambah lumayan signifikan dalam 2 bulan terakhir.

PT Gatramas Internusa berdiri pada tanggal 19 Januari 2001 yang bergerak di bidang migas. Pada tahun 2006, PT Gatramas Internusa membangun bengkel di Gn. Putri Bogor dengan area 12.000 meter persegi. Sampai dengan tahun 2015 telah membuat lebih dari 200 sumur di Indonesia. PT Gatramas Internusa menangani klien-klien seperti Pertamina, Chevron, Elnusa, Halliburton, Weatherford, COSL, Huabei Petrolium, Petronas Carigali, Yasa dll.

Pada tahun 2014, Gatramas Internusa mengajukan pinjaman kredit modal kerja kepada Bank Sumsel Babel, sebagai tambahan modal karena mendapat proyek dari PT Rekind sebesar 56 miliar rupiah. Bank Sumsel Babel setuju dan kasih pinjaman 15 miliar dengan jaminan tanah 8200 meter persegi seharga 630 juta rupiah dan mesin yang seharga 15 miliar rupiah yang sudah dilakukan appraisal oleh KJPP Nana Imanudin. Surat perjanjian pinjaman itu ditandatangan Aran Haryadi dari Bank Sumsel Babel dan alm. Herry Gunawan direktur Gatramas Internusa.

Saya mencoba menganalisa apa yang terjadi pada tahun 2016 sehingga menyebabkan PT Gatramas Internusa tidak dapat melakukan kewajibannya untuk membayar pinjaman pada Bank Sumsel Babel, dan akhirnya saya mencoba mencari tahu tentang kondisi migas di Indonesia pada saat itu. Saya membaca berita tahun 2016 tentang migas:

  1. Januari 2016, Republika, Kepala restrukturisasi dan angka kepailitan Moore Stephen, Jeremy Willmont mengatakan 28 perusahaan migas bangkrut karena jatuhnya harga minyak terkait dengan kesulitan keuangan perusahaan, jumlah ini naik 18 persen dibandingkan tahun 2014.
  2. Februari 2016, Kompas, Kepala Analisa IHS inc Bob Fryklund, mengatakan 150 perusahaan migas terancam bangkrut, disebabkan kenaikan suplai minyak mendorong penurunan harga minyak dunia. Perusahaan harus menunggu minimal 6 bulan sampai harga minyak naik sebelum memulai investasi.
  3. Maret 2016, Okezone, Presiden Direktur PT Lapindo Brantas inc, Tri Setya mengatakan bahwa sekarang ini ada sekitar 313 perusahaan migas di Indonesia, dari jumlah ini 50 perusahaan sudah bangkrut, hanya 66 perusahaan yang masih beroperasi.
  4. Mei 2016, Katadata.co.id, Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA) Marjolijn Waiong, mengatakan bahwa industry minyak dan gas bumi di Indonesia sudah pada tahap kritis, produksi menurun sementara permintaan meningkat, saat ini (tahun 2016) kegiatan eksplorasi dan pencarian sumber migas baru di Indonesia sudah sangat rendah. Penurunan ini  karena kondisi geologis sumber migas yang lebih banyak di Indonesia timur yang lebih sulit dijangkau, kurangnya data, aturan dan kebijakan fiscal pemerintah dan yang terutama karena penurunan harga minyak sejak 2014.

Berdasar dari data di atas, saya pikir memang kondisi sulit untuk perusahaan yang sudah berdiri belasan tahun mengalami masa krisis migas yang mengakibatkan banyak perusahaan lain pun bangkrut. Pada tahun 2015, tentu PT GI sudah tahu bahwa usaha di bidang migas sudah sulit sejak tahun 2014, pilihannya cuma dua, tetap bertahan tidak tahu sampai kapan, atau mengambil risiko mengajukan pinjaman supaya bisa melewati masa sulit itu dengan beban bunga dan harapan yang lebih tinggi untuk bisa berhasil. Kita tahu Heri Gunawan selaku direktur mengambil keputusan nomor dua, ya anggaplah itu keputusan yang salah.

Sesudah membayar cicilan dan bunga sebanyak 27 kali atau total 4.3 miliar rupiah, ada kendala dimana PT Rekind tidak dapat membayar kepada PT GI, akhirnya PT GI mengirim surat teguran pada tanggal 19 September 2016 dan 27 September 2016 untuk menagih kekurangan pembayaran untuk pekerjaan itu. Akhirnya menjadi kredit macet kepada Bank Sumsel Babel. PT GI mengajukan rencana pendamaian kepada Bank Sumsel Babel tanggal 3 Nopember2016 akhirnya disetujui dan PT GI masuk dalam keadaan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Oke sementara bahasan saya tentang Analisa kasus Agustinus Judianto saya tutup sampai di sini dan akan dilanjutkan pada tulisan berikut seputar sidang dan keputusan hakim yang menyatakan Augustinus Judianto divonis bebas, dipulihkan nama baiknya dan segala beban sidang ditanggung negara.

Saya nanti akan mencoba menuliskan Analisa tentang hal-hal yang tersisa dalam pikiran saya, antara lain:

  1. Bagaimana persidangan, pailit yang diajukan Bank Sumsel Babel, dan hal-hal seputar itu.
  2. Apakah PT GI akan pailit jika pada tahun 2016 Indonesia tidak mengalami krisis industri migas dan terlibat kasus tunggakan pinjaman ini? Mungkin ini kesalahan dari pengambilan risiko PT GI di tahun 2015 dengan mengambil pinjaman untuk penambahan modal di saat industri migas sedang sulit.
  3. Bagaimana nasib perusahaan migas lain yang juga pailit pada tahun 2016 yang berjumlah puluhan itu? Apakah mereka menunggak juga? Apakah mereka menjalani sidang juga?
  4. Apakah Augustinus Judianto akan jadi terdakwa jika Herry Gunawan yang merupakan direktur masih hidup dan bisa menjalani sidang?
  5. Mengapa JPU mengangkat kasus ini ke ranah pidana?

Mungkin jika ada waktu senggang, terutama saat orderan website sedang sepi saya akan mencoba menganalisa kasus lain yang juga menarik. Sekarang saya akan beristirahat dulu sambil melanjutkan nonton tv series the walking dead di streaming.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *