Keyword 1

Keyword 2

4 Partai beralih dari Jokowi ke Foke?

Detik.com sebelumnya telah menuliskan artikel Konstelasi politik berubah, pendukung jokowi membelok ke Foke setelah tulisan sebelumnya KPU DKI menyebutkan bahwa ke 4 parpol tanpa wakil rakyat itu dari awal memang tidak didaftarkan oleh Jokowi Ahok sebagai partai pengusung. Apa intrik politik dibalik peristiwa ini? Mengapa Detik menghapus artikel yang sempat beredar tersebut? Mengapa sejak awal Jokowi Ahok tidak mendaftarkan mereka sebagai partai pengusung? Semua akan diungkap secara lugas dalam Analisa Berita kali ini.

Keempat parpol yang dengan bangga mengaku sebagai pembelot adalah Partai Karya Perjuangan, Barisan Nasional, Partai Peduli Rakyat Nasional dan Partai Keadilan Persatuan. Donny Lumingas dari PKP mengatakan bahwa visi misi Foke lebih jelas, saya merasa ini hanyalah alasan karena harusnya  sebagai politikus sudah mengetahui dan mengenal Foke sejak awal. Lantas apa alasannya kalau waktu awal mereka mau mendukung Jokowi? Jika mereka ingin membantu dengan tulus, mengapa Jokowi menolak dukungan mereka? Siapa yang tidak butuh dukungan saat kampanye? Mengapa waktu awal mereka tidak mendukung Alex Nono yang didukung oleh banyak partai gurem seperti keempat partai itu? Apa yang telah mereka lakukan untuk Jokowi selama kampanye?

Sejak awal pencalonan cagub dan cawagub DKI, pasti kepiawaian Jokowi dalam mengurus kota Solo hingga membuatnya menjadi 5 walikota terbaik di Asia telah diperhitungkan sebagai rival berat oleh calon-calon yang lain. Begitu banyak mahasiswa dan kalangan intelektual yang turut mendukung Jokowi Ahok termasuk membantu penjualan kaos, bunga untuk pendanaan kampanye. Ini hal yang bagus bagi pasangan tersebut, tetapi tentu merupakan mimpi buruk bagi calon incumbent yang sangat ingin mempertahankan posisinya dalam hal ini Fauzi Bowo.  Saya menganalisa bahwa bukan tidak mungkin jika Fauzi Bowo atau tim suksesnya menggunakan keempat partai itu sebagai penyelusup kepada kubu Jokowi yang pada pertengahan masa kampanye akan beralih sehingga terlihat seperti chaos di kubu Jokowi dan pembuktian kepada masyarakat bahwa partai lain beralih mendukung Fauzi Bowo. Kemungkinan lainnya adalah inisiatif dari keempat partai itu untuk melakukan trik tersebut dengan harapan bahwa kubu Foke Nara akan menyambut mereka sebagai pahlawan dan tentu saja akan mendapat porsi lebih besar daripada partai lain.

Tetapi trik tersebut tidak berhasil karena rakyat tidak bodoh, demikian juga dengan Jokowi yang tidak terlalu menanggapi karena sejak awal tentu saja Jokowi telah membaca trik seperti itu sehingga tidak tertarik untuk memasukkan keempat partai itu sebagai pendukung dirinya.

Apa isi artikel yang ditulis oleh Detik sebelum dihapus? Saya akan sekaligus menganalisa  artikel tersebut.

1. 4 parpol itu mempunyai ratusan ribu suara yang sangat signifikan dalam Pilkada
Analisa : jika mereka punya banyak pendukung mengapa tidak mempunyai wakil di DPRD DKI?

2. Pernyataan Donny Lumingas bahwa mereka pindah karena visi misi Foke lebih jelas,

Analisa : sebelumnya saya tuliskan bahwa ini hanya alasan.

3. Jokowi tidak berhasil meyakinkan pendukungnya bahwa mereka akan memimpin Jakarta dengan lebih baik,
Analisa: tidak ada perpecahan di kubu Jokowi kecuali pada 4 parpol itu, ini bagian dari black campaign

4. Jemmy R Toar dari Barnas mengatakan bahwa kinerja Foke sebagai gubernur sudah bagus dan lebih baik jika dilanjutkan,
Analisa: Jika demikian tentu sudah terlihat bahwa kinerja Foke selama menjabat gubernur sudah baik, mengapa mendukung Jokowi?

5. Selama ini Fauzi Bowo telah bekerja dengan baik, bersama Nara pasti akan lebih baik,
Analisa : bagaimana dengan nasib Prijanto? Apakah Nara akan menjadi Prijanto kedua?

6. Setelah itu detik menuliskan 7 prioritas yang ditawarkan oleh Foke Nara,
Analisa: inilah yang membuat para pembaca Detik termasuk saya merasa Detik sudah dibayar untuk membuat iklan terselubung untuk Foke. Tetapi kemudian seluruh artikel ini dihapus karena dianggap  “terlalu mendukung” Foke. Detik tentu tidak ingin kehilangan pembaca karena 1 artikel.

Pada akhir analisa kali ini, saya memprediksi bahwa 4 parpol itu nasibnya akan semakin ditinggalkan oleh para pendukungnya karena membelot bukanlah hal yang terpuji sekalipun dalam politik. Apalagi jika melakukan black campaign dengan cara pura-pura mendukung kemudian membelot. Trik apa yang akan dilakukan jika nanti memperoleh jabatan dalam pemerintahan? Apakah rakyat akan percaya kepada mereka? Rakyat tentu tahu mana pilihan terbaik, demikian pula dalam pilkada DKI kali ini.

2 Comments

  • tiarma

    tak skedar tim sukses yg ngomong…tp kluar dr mulut wakil calon..
    ini terlalu kasar dan gak elegan

    payah.. ga da cerdasny

  • Simon Peter

    Kita punya harapan besar kiranya Pak Jokowi+Pak Ahok benar-benar menjawab ringisan grassroots yang sangat rindu menikmati sebuah kehidupan yang “lega”. Keadilan, berdagang utk survive yg bebas dari penggusuran tanpa solusi,saya yakin, akan menumbuhkan gairah baru utk mereka terus hidup.

You must be logged in to post a comment.