Jokowi capres

Capres Jokowi

Kalau Jokowi jadi capres 2014?

Semua warga DKI pasti kenal Jokowi, bahkan Jokowi menjadi tokoh paling populer di seluruh survey di hampir seluruh daerah di Indonesia. Tapi pertanyaan di atas bukan kalau Jokowi jadi presiden, dan kita berandai2 tentang Indonesia yang akan jadi lebih makmur karena dipimpin oleh Satrio Piningit atau kemungkinan negatif yang akan terjadi karena Jokowi baru menjadi gubernur belum sampai 1 tahun. Mungkin saya akan menganalisa kalau Jokowi jadi presiden menjelang pemilu, kalau memang beliau mencalonkan diri sebagai capres.

Dalam politik selalu ada pro dan kontra dalam segala hal, tidak mudah untuk mengatakan kalau yang pro itu pro rakyat atau pro pemerintah ataupun yang kontra itu sebagai pihak yang kepentingannya dirugikan atau membela kepentingan rakyat banyak. Kita bisa melihat setelah semua itu terbukti, tetapi kita sebagai rakyat harus memilih cuma berdasar track record dan semua janji para politikus itu. Bagi orang-orang apatis tentu memilih golput, tapi itu jelas pilihan yang paling salah, karena golput artinya tidak mengubahkan apa-apa , tidak perduli sama sekali atau putus harapan. Jadi bagaimana kalau Jokowi jadi capres 2014? Siapa yang pro dan siapa yang kontra? Apakah yang pro itu orang-orang yang pro perubahan atau punya kepentingan politik tertentu? Apakah yang kontra itu demi kepentingan rakyat atau punya kepentingan yang lain?

Saya akan membahas mulai dari kepentingan partai politik dan kemungkinan dengan siapa Jokowi akan dipasangkan.

  1. Saya akan bahas mulai dari PDI-P, karena Jokowi berasal dari PDI-P. PDI-P menolak mencalonkan Jokowi meskipun punya kesempatan untuk mengangkat nama partai dan sekaligus memenangkan pemilu dan menjadi partai berkuasa karena menganggap bahwa Jokowi harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu. Tetapi bisa saja pada akhirnya PDI-P akan mengubah sikap dan mengamini kalau melihat bahwa seluruh rakyat Indonesia memang menginginkan Jokowi menjadi Presiden. Atau bisa saja PDI-P pura-pura tidak mau supaya tidak terlihat sebagai partai oportunis dan menjaga komitmen tetapi mengubah sikap pada waktu timing yang tepat.
  2. Bagaimana dengan Golkar yang mencalonkan ARB sebagai presiden dan itu sudah harga mati? Tentu saja mereka setuju Jokowi mencalonkan diri selama hanya menjadi wapres untuk dipasangkan dengan ARB. Tapi tentu saja PDI-P tidak akan mau Jokowi hanya sekedar menjadi wapres. Apalagi ARB punya imej buruk karena lumpur Sidoarjo. Dari dulu pun hubungan PDI-P selalu berseberangan dengan Golkar. Bahkan karena kantong suara Jokowi terbesar di DKI dan Jawa, tentu peluang Jokowi memenangkan pemilu pun akan turun jika dipasangkan dengan ABR.
  3. Demokrat sebagai partai berkuasa terlihat lebih terbuka dengan mengadakan konvensi, bahkan memberi peluang kalau Jokowi mau menjadi capres mereka. Karena mereka merasa tidak punya calon yang lebih baik untuk menjadi capres dari kalangan Demokrat sendiri. Apalagi SBY dan keluarga tidak mungkin mencalonkan diri juga sesuai janjinya dan beberapa kader terlibat korupsi, tentu ini menjadi ketakutan bagaimana mereka menghadapi pemilu 2014, akhirnya berharap Jokowi bisa mengangkat suara mereka. Padahal kalau menurut saya, Demokrat masih mempunyai Dahlan Iskan yang disenangi oleh rakyat, tetapi sepertinya para wakil rakyat dari PD tidak mempunyai hubungan yang cukup bagus dengan Dahlan Iskan yang terkenal bersih,  tidak mengambil gaji selama jadi dirut PLN dan tidak pernah menggunakan fasilitas negara. Seharusnya Dahlan Iskan mengambil kesempatan untuk ikutan dalam konvensi capres.
  4. Bagaimana dengan PKS? Mereka sepertinya sedang galau, LHI terkena kasus sapi, mereka masih fokus bagaimana mengangkat suara supaya memenangi pemilu 2014 dan bisa ikutan jual suara untuk mendukung partai yang memenangkan pemilu seperti biasa, minimal mereka bisa mempunyai beberapa orang menteri dari kalangan PKS seperti biasa. Tapi PKS tentu tidak akan mau kalau sampai Jokowi menjadi capres dari PDI-P, karena sangat kecil kemungkinan Jokowi mau dipasangkan dengan siapapun cawapres dari kalangan PKS atau bahkan sekedar untuk mengangkat kader PKS menjadi menteri sekalipun.
  5. PKB juga mempunyai calon yang terkenal bersih yaitu Mahfud MD, sebagai parpol yang turun pamor di pemilu 2009 tentu akan melihat bahwa memasangkan Jokowi dan Mahfud MD bisa mengangkat suara mereka di pemilu 2014, tentu saja dengan slogan “bersih”. Bukan tidak mungkin untuk pasangan ini diangkat, belum tahu apakah akan ada negosiasi di antara mereka, karena PKB pun baru saja menghadapi masalah internal antara  kerabat Gusdur dengan ketua umum. Tentu negosiasi akan terjadi berdasar hasil pemilu legislatif 2014.
  6. Yang sangat menarik adalah Gerindra. Setelah berhasil dengan begitu fenomenal mengangkat Jokowi dan Basuki T Purnama sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI, sangat besar kemungkinan untuk mereka (PDI-P dan Gerindra) akan kembali berpartneran. Dulupun mereka pernah memasangkan Mega dengan Prabowo sebagai pasangan capres walaupun gagal. Kalau Jokowi dicalonkan, akan terjadi negosiasi yang sangat alot di antara mereka  tentang siapa yang akan mereka angkat sebagai capres dan cawapres 2014. Apakah Prabowo Jokowi atau Jokowi  Prabowo atau bahkan mungkin saja Jokowi Ahok kembali diangkat sebagai pasangan capres cawapres.
  7. Hanura dan partai lainnya yang tidak sempat disebutkan semua di sini tentu akan mempertimbangkan dengan kesimpulan yang sama, kalau Jokowi jadi presiden apa kepentingannya bagi mereka? Apakah akan tampil sebagai lawan politik atau bisa ikut terangkat naik.

Berdasar analisa di atas, kita sebagai rakyat awam bisa melihat bahwa sebetulnya apakah Jokowi akan menjadi capres atau tidak adalah berdasar kepentingan setiap partai. Jokowi sendiri loyal dengan perintah PDI-P, dia akan terima kalau disuruh mencalonkan diri ataupun dilarang mencalonkan diri. Yang menarik adalah, bahwa yang setuju kalau Jokowi mencalonkan diri sebagai capres adalah partai yang mempunyai kemungkinan untuk memasangkan calon mereka minimal sebagai wapres bersama Jokowi, dan yang tidak setuju tentu saja yang nanti akan berhadapan sebagai lawan Jokowi di pemilu 2014. Sedangkan bagi PDI-P sendiri, jika Jokowi menjadi capres, ini adalah akhir dari generasi Soekarno, apakah mbak Mega rela?

Saya lebih melihat jika Jokowi menjadi capres, tentu yang lebih penting adalah siapa calon yang akan dipasangkan dengan Jokowi?  Karena itu adalah tiket langsung menuju RI-2. Semoga yang terpilih sebagai wapres bukan karena kepentingan parpol, tetapi memang sosok yang diinginkan oleh rakyat, karena rakyat tidak bisa menentukan siapa pasangan wapres Jokowi.

Apa isu yang akan dikeluarkan oleh pihak lawan kalau Jokowi mencalonkan diri sebagai capres?

  1. Jokowi kutu loncat, sebaiknya Jokowi mencalonkan diri di pemilu 2019. Apakah Jokowi jika terpilih sebagai presiden tidak bisa melanjutkan pekerjaannya membereskan kota Jakarta? Saya yakin bisa, karena gubernur kan tetap bertanggungjawab pada presiden, bahkan akan lebih efektif, karena berbagai hal yang masih mengganjal karena posisinya masih sebagai gubernur sekarang ini, akan lebih longgar dengan otoritasnya jika nanti sebagai presiden. Ahok pun pasti akan sangat bertanggungjawab membereskan pekerjaan tersebut. Lihat saja di Solo, setelah ditinggalkan oleh Jokowi, tetap saja Solo dibangun dengan baik oleh wakilnya.
  2. Jika dipasangkan dengan Ahok sebagai capres-cawapres, pasti akan diangkat isu SARA seperti pilkada DKI kemarin. Apakah wakil presiden harus orang Indonesia asli? Dalam UUD 45 ps 6 ay 1, tertulis bahwa presiden harus orang Indonesia asli, jadi tidak wajib untuk wapres. Sebagai tambahn pada ps 6 ay 2 tertulis kalau presiden dipilih MPR,  kita juga sudah melanggar UUD 45 karena dalam pemilu, presiden dipilih langsung oleh rakyat. Jadi jika dikatakan wapres harus orang Indonesia asli, itu hanya isu SARA.
  3. Jokowi belum tentu menang jikapun dicalonkan karena Jokowi ikutan kampanye di Sumut,  Jabar dan Bali pun tetap kalah. Itu karena masyarakat pintar, mereka tahu kalau Jokowi hanya dipakai sebagai alat kampanye oleh PDI-P, setelah selesai kampanye akan balik urus DKI, tetapi akan lain hasilnya jika Jokowi yang menjadi cagub di sana.

Jadi jika Jokowi dicalonkan sebagai presiden, siapa calon yang paling mungkin menjadi wapres?

  1. Dahlan Iskan, seorang yang sudah pernah hampir mati dan hidup kembali, dari kalangan rakyat biasa, terkenal bersih, bahkan bukan dari kalangan parpol tetapi diangkat sebagai menteri BUMN. Jokowi dan Dahlan Iskan juga sekarang bekerja sama dalam beberapa proyek pembangunan DKI. Ini pasangan yang sangat ideal tetapi tidak jelas siapa yang akan menjadi negosiator diantara mereka.
  2. Jusuf Kala punya hubungan yang bagus dengan Jokowi, tetapi apakah JK berani mencalonkan diri sebagai cawapres melawan ARB dan partai Golkar?
  3. Mahfud MD juga termasuk calon yang bersih walaupun tidak jelas statusnya di PKB. Tahun 1999, Gusdur dan Mega pernah menjadi pasangan presiden dan wakil, tetapi berakhir tidak harmonis, jika sekarang PKB dipegang oleh kerabat Gusdur tentu tidak akan terjadi kerja sama di antara mereka, tetapi PKB sekarang bukan dari kerabat Gusdur, apakah akan ada “mak comblang” untuk mereka?
  4. Tentu saja Prabowo menjadi calon yang mempunyai kekuatan negosiasi paling tinggi daripada semua calon karena berhasil memasangkan Jokowi Ahok menjadi pemimpin DKI, tetapi masalahnya siapa yang menjadi RI-1 dan siapa yang rela di posisi RI-2. Jika salah satu partai mau mengalah tentu pasangan ini akan terwujud. Yang terpaksa menentang pasangan ini tentu dari Hanura yang dipimpin oleh Wiranto yang juga ingin menjadi Capres, apalagi sekarang didukung oleh HT sekaligus Wiranto juga mempunyai konflik yang sangat dalam dengan Prabowo terkait kerusuhan mei 98.
  5. Wiranto juga sangat ingin menjadi presiden, setelah beberapa kali gagal, kini mendapat dukungan HT, tentu bukan lagi Wiranto yang seperti dulu. Sebagai partai yang baru dibenahi, Hanura juga terbuka untuk menerima Jokowi, tentu saja kalau Jokowi mau menjadi cawapres. Sepertinya hasil pemilu legislatif yang akan lebih menentukan siapa yang menjadi RI 1 dan RI 2.
  6. Basuki T Poernama, telah terbukti kerja keras dan kerja sama yang baik di antara mereka bahkan sangat efektif dalam memimpin DKI. Bahkan masyarakat di DKI tentu sangat setuju karena telah merasakan kinerja keduanya, (kecuali orang-orang yang tersingkir tentunya). Tetapi tentu sangat sulit mendapat ijin untuk maju dari Prabowo yang sangat ingin mendapatkan posisi tersebut, belum lagi harus melawan isu SARA. Ini hanya akan terjadi jika arus bawah sangat kuat mendorong untuk pasangan ini dicalonkan.

Ini semua hanyalah seumpama jika Jokowi menjadi capres, dan saya menuliskan tanpa kepentingan apa-apa selain untuk memberikan analisa secara umum dan terbuka.

 

You must be logged in to post a comment.

Shopping Cart (0 Items)
Your cart is empty!


Subtotal: Rp.0.00
Total: Rp.0.00